Artikel | DETaK
Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, banyak sekali tokoh pahlawan yang sering disebutkan. Siapa yang tidak mengenali Ir. Soekarno? Bapak Proklamator Indonesia dan juga presiden pertama republik Indonesia. Siapa pula yang tidak mengenali Mohammad Hatta? Wakil Presiden pertama Indonesia yang juga berjasa dalam pembebasan Indonesia dari kolonial Belanda. Bagaimana dengan pahlawan revolusi seperti Letjen TNI Ahmad Yani, menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi yang gugur dihabisi PKI?
Nama-nama seperti Mohammad Hatta, Ir. Soekarno, dan Letjen TNI Ahmad Yani tak asing lagi dalam pendengaran kita. Namun beda halnya dengan nama Tan malaka.

Dilansir pada jurnalposmedia.com, Tan Malaka adalah orang yang pertama kali berjuang menentang antikolonialisme di Hindia Belanda. Beliau juga yang pertama mencetuskan konsep “Republik Indonesia” dalam bukunya berjudul Naar de Rebubliek Indonesia (1925). Dengan semangat memperjuangan kesejahteraan bangsa Indonesia, Tan Malaka giat memperjuangkan pendidikan bangsa.
Walaupun jasa beliau besar bagi perjuangan kemerdekaan dan revolusi Indonesia, nama Tan Malaka nyaris tak dimunculkan dalam sejarah perjalanan bangsa. Akhirnya, Tan Malaka menjadi pahlawan yang dilupakan bangsanya sendiri.
Perjalanan Hidup Tan Malaka
Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka, lahir di Suluki, Nagari Pandan Gadang, Sumatera Barat. Ia merupakan seorang semibangsawan yang menempuh pendidikan di Rijkskweekschool (Sekolah Guru), Belanda, dan kembali ke Indonesia pada November 1919 untuk bekerja sebagai guru di Tanjung Morawa, Sumatra Utara. Di sinilah Tan Malaka melihat betapa kejamnya sistem kapitalis yang dipraktikan di perkebunan tersebut.
Dengan hati yang mantap, Tan Malaka rela meninggalkan kemewahan serta meninggalkan pekerjaannya untuk pergi ke Jawa pada tahun 1921. Tujuan Malaka ke Jawa untuk menemui teman-temannya di semarang membuahkan hasil. Tan akhirnya mendirikan sekolah rakyat yang pertama di Semarang, dan dalam waktu 3 hari, ia sudah bisa mengajar di sekolah tersebut.
Dilansir pada salah satu media nasional, Dari Penjara Ke Penjara: Jejak Langkah Ideolog Tan Malaka, Di sinilah Tan Malaka mulai aktif bergerak sebagai aktivis murba dan menjadi fungsionaris PKI. Pada Kongres PKI tanggal 24-25 Desember 1921 di Semarang, Tan Malaka terpilih menjadi pemimpin PKI saat Semaun sedang tidak berada di Indonesia.
Yang menarik, seperti dicatat oleh Harry A Poeze, peneliti sekaligus penulis buku berjudul Tan Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia, ketika menjabat sebagai Ketua PKI dari 1921-1922, Tan Malaka teguh mendukung proyek aliansi Islam-Komunis.
Tan Malaka dan Sayap Kiri
Dalam perjalanan hidupnya, Tan Malaka memiliki beberapa nama di dalam maupun luar negeri seperti, Elias Fuente (ketika ia memasuki Manila dan Hongkong pada tahun 1927), Oong Soong Lee (ketika ia memasuki Hongkong dari Sanghai tahun 1932), Ramli Husein (saat ia kembali ke Indonesia dari Singapura melalui Penang pada tahun 1942), dan nama samaran lainnya yang ia gunakan dengan alasan karena nama Tan Malaka sudah dikenal di seluruh Sumatera dan pemerintah Belanda, maka nama tersebut tidak dapat digunakan dalam perjalanan dan juga untuk menyembunyikan identitasnya.
Tan Malaka aktif dalam kegiatan partai komunis dunia. Beberapa karya besarnya yaitu, Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) dan Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi).
Pada bulan November 1922, di hadapan perwakilan partai komunis dari berbagai belahan dunia, Tan Malaka menegaskan, “Ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia!”
Dalam buku karangan Zulhasril, Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau, PARI (Partai Rakyat Indonesia) yang didirikan Tan Malaka tahun 1927 adalah wujud kekecewaannya terhadap kelompok komunis Jawa dan Sumatera yang melakukan pemberontakan. Ia melarang PKI melakukan aksi bersenjata, karena menganggap PKI belum mempunyai landasan berpijak yang memadai. Baginya, PKI sebaiknya membangun momentum secara berangsur-angsur lewat organisasi dan pendidikan (hal. 73).
Jadi, jelaslah kesalahpahaman selama ini, Tan Malaka bukanlah otak pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera.
Dilansir dari merdeka.com, Ketidaksukaan elite-elite PKI terhadap Tan Malaka terus berlanjut bahkan hingga PKI dipimpin oleh DN Aidit. Hal ini bisa dilihat dari pidato-pidato DN Aidit ketika itu yang menyatakan musuh utama PKI salah satunya adalah Murba (partai yang didirikan Tan Malaka) dan Malakais (isme Tan Malaka).
Pemikiran marxisme yang dianut Tan Malaka tidaklah membuatnya menjadi orang komunis yang tidak percaya akan adanya Tuhan. “Saya lahir dalam keluarga Islam yang taat,” ucap Tan Malaka di dalam risalah berjudul Islam Dalam Tinjauan Madilog (1948).
Akhir Cerita Sang Pahlawan
Hingga akhirnya, pada tangggal 21 Februari, Tan Malaka menghembuskan nafas terakhir di Sungai Brantas, tepatnya di Desa Mojo, sebelah selatan Kota Kediri, Jawa Timur. Tan ditembak mati atas perintah Letnan Kolonel Surachmad dan Panglima dan TNI Jawa Timur Kolonel Soengkono. Dan pada tanggal 28 Maret 1963, Presiden Soekarno mengangkat Tan Malaka sebagai pahlawan nasional. Namun nama Tan Malaka, masih jarang terdengar dalam sejarah Indonesia.[]
Penulis bernama Ananda Safira Mirza Hasibuan, mahasiswi Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan(FKIP), Universitas Syiah Kuala (USK). Ia merupakan salah satu anggota magang di UKM Pers DETaK USK.
Editor: Cut Siti Raihan










