Beranda Opini Perjuangan Seorang Anak yang Pantang Menyerah

Perjuangan Seorang Anak yang Pantang Menyerah

BERBAGI
Ilustrasi. (Aishara [AM]/DETaK)

Opini | DETaK

Indonesia sejak dahulu menjunjung tinggi kasih sayang dalam keluarga, kepedulian terhadap sesama, serta gotong royong sebagai fondasi dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai ini dianggap sebagai warisan yang bertujuan menjaga hubungan antarindividu, membangun rasa empati, dan memastikan tidak ada anggota masyarakat yang dibiarkan menghadapi kesulitan seorang diri.

Dalam praktiknya, nilai tersebut tampak pada bakti seorang anak kepada orang tuanya, kepedulian antaranggota keluarga ketika ada yang sakit, serta bantuan masyarakat dan negara kepada keluarga yang mengalami kesulitan. Namun, dalam penerapannya saat ini, beban tersebut sering kali justru dipikul sendirian oleh pihak yang paling rentan, bahkan oleh seorang anak. Hal inilah yang saya rasakan setelah membaca berita tentang perjuangan seorang anak di Kabupaten Pidie, Aceh.

Iklan Souvenir DETaK

Menurut saya, berita tentang seorang anak di Kabupaten Pidie, Aceh, yang mengayuh sepeda untuk mengantar ayahnya berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tgk Chik Di Tiro Sigli adalah kisah yang sangat menyentuh hati. Berdasarkan pemberitaan Atjeh Watch pada 15 Oktober 2026, Muhammad Saidil Fata, yang baru berusia sembilan tahun, menempuh perjalanan sejauh 12 kilometer dengan sepeda. Ia membonceng ayahnya yang sedang sakit akibat infeksi paru-paru, sekaligus membawa adiknya yang berusia lima tahun. Membaca berita ini, saya tidak bisa membayangkan betapa beratnya perjalanan itu bagi seorang anak yang seharusnya masih sibuk dengan sekolah dan bermain.

Bagi sebagian besar orang, perjalanan 12 kilometer mungkin terasa singkat jika ditempuh dengan kendaraan bermotor. Namun bagi seorang anak sembilan tahun yang mengayuh sepeda, jarak tersebut berarti menahan lelah, panas, dan kekhawatiran sepanjang jalan. Ia harus menjaga keseimbangan sepeda agar ayahnya yang sedang sakit tidak terjatuh, sekaligus memastikan adiknya yang masih kecil tetap aman di dekatnya. Setiap kayuhan adalah bentuk kepedulian, dan setiap kilometer adalah bukti bahwa cinta kepada keluarga bisa melampaui keterbatasan usia dan tenaga.

Saya berpendapat bahwa Saidil adalah anak yang baik, penuh kasih sayang, dan tidak pantang menyerah. Di usianya yang masih jauh di bawah umur dewasa, ia memilih bertindak ketika ayahnya membutuhkan pertolongan, bukan menyerah pada keadaan. Banyak orang, bahkan orang dewasa, mungkin akan bingung, panik, atau merasa tidak berdaya ketika anggota keluarganya jatuh sakit dan tidak ada kendaraan yang bisa digunakan. Saidil justru mengambil satu-satunya jalan yang ia punya, yaitu sepedanya, dan berusaha sekuat tenaga agar ayahnya bisa segera mendapat perawatan.

Jarak 12 kilometer bukan perjalanan ringan bagi anak sembilan tahun, apalagi dengan beban dua penumpang, namun ia tetap mengayuh sampai tujuan. Sikapnya juga mencerminkan tanggung jawab seorang kakak karena ia tidak hanya mendampingi ayahnya, tetapi juga menjaga adiknya. Ia tidak meninggalkan adiknya sendirian, dan itu menunjukkan rasa tanggung jawab yang matang melebihi usianya. Kasih sayang, tanggung jawab, dan keteguhan hati seperti ini patut menjadi teladan bagi kita semua, termasuk orang dewasa yang sering kali mudah mengeluh ketika menghadapi masalah yang jauh lebih ringan.

Kisah ini juga mengingatkan saya bahwa nilai-nilai kebaikan sering kali tumbuh dari keluarga dan keadaan sehari-hari. Keberanian Saidil tidak lahir dari fasilitas atau kemudahan, melainkan dari kedekatan dengan keluarganya dan dorongan untuk tidak membiarkan orang yang ia sayangi menderita. Dalam hal ini, Saidil mengajarkan bahwa ketangguhan tidak diukur dari usia atau kekuatan fisik, tetapi dari kemauan untuk terus berusaha ketika keadaan terasa sulit.

Namun, di balik perjuangan yang mengharukan itu, saya berpendapat ada kegagalan yang tidak boleh diabaikan. Keluarga Saidil tampak menghadapi kesulitan ekonomi. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana bantuan bagi keluarga kurang mampu telah menjangkau mereka yang membutuhkan. Saya mengkritik pemerintah karena pendataan dan penyaluran bantuan seolah belum sampai ke keluarga yang paling rentan. Jika bantuan sosial dan dukungan kesehatan benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan, seorang anak kecil tidak perlu menjadi satu-satunya andalan untuk membawa ayahnya yang sakit ke rumah sakit.

Menurut saya, kisah seperti ini seharusnya menjadi bahan evaluasi serius. Pendataan keluarga kurang mampu perlu dilakukan secara cermat dan diperbarui secara berkala, sehingga tidak ada keluarga yang terlewat hanya karena tinggal jauh dari pusat layanan atau tidak memiliki akses informasi. Bantuan sosial harus benar-benar menjangkau kelompok yang membutuhkan agar tujuan penyalurannya tercapai. Pemerintah juga perlu lebih aktif menjemput bola, bukan menunggu masyarakat miskin datang sendiri dengan segala keterbatasannya.

Saya juga menyoroti kurangnya pertolongan darurat dari puskesmas terdekat. Puskesmas seharusnya menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Ketika ada pasien dalam kondisi darurat, keluarga seharusnya bisa meminta tolong ke puskesmas dan mendapat penanganan awal atau bantuan transportasi ke rumah sakit. Namun yang terjadi, seorang anak harus mengayuh sepeda sendiri di jalan raya demi mengantar ayahnya. Menurut saya, ini menunjukkan bahwa layanan darurat, termasuk ketersediaan ambulans dan sistem rujukan yang mudah diakses masyarakat desa, belum berjalan optimal.

Bahaya dari perjalanan itu tidak boleh dianggap sepele. Di jalan raya, sepeda kecil yang membawa tiga orang sangat rentan terlibat kecelakaan, terutama jika pengendaranya adalah anak yang tenaganya terbatas. Seandainya terjadi kecelakaan, akibatnya bisa fatal, bukan hanya bagi Saidil, tetapi juga bagi ayah dan adiknya. Karena itu, keberhasilan Saidil sampai ke rumah sakit memang patut disyukuri, tetapi jangan sampai kita menganggapnya sebagai hal yang wajar. Selamat sampai tujuan bukan berarti sistemnya sudah bekerja dengan baik.

Karena itu, saya berharap pemerintah daerah segera memperbaiki penyaluran bantuan agar tepat sasaran bagi keluarga kurang mampu, menyediakan ambulans dan transportasi darurat yang mudah dijangkau di daerah yang jauh dari rumah sakit, serta memperkuat peran puskesmas dalam menolong pasien darurat dan membantu proses rujukan. Saya juga berharap keluarga Saidil mendapat perhatian langsung, baik berupa dukungan pengobatan maupun kebutuhan hidup sehari-hari, agar mereka tidak lagi berjuang sendirian.

Selain pemerintah, masyarakat sekitar juga memiliki peran penting. Tetangga, tokoh masyarakat, dan lembaga sosial dapat saling peduli dan sigap membantu ketika ada warga yang sakit dan tidak mampu. Kepedulian sederhana, seperti menawarkan tumpangan atau menghubungi petugas kesehatan, bisa sangat berarti dan mungkin dapat mencegah seorang anak menanggung beban sebesar itu sendirian. Gotong royong adalah nilai yang sudah lama kita banggakan, dan kisah ini menjadi saat yang tepat untuk mewujudkannya kembali.

Kesimpulannya, kisah Saidil mengajarkan kita tentang bakti seorang anak dan keteguhan seorang kakak yang tidak pantang menyerah. Namun kisah ini juga menjadi pengingat bahwa anak seusianya seharusnya belajar dan bermain dengan aman, bukan menanggung beban yang semestinya dipikul negara dan masyarakat. Perjuangan Saidil patut dihargai dan dijadikan inspirasi, tetapi cara terbaik menghormatinya adalah dengan memastikan tidak ada lagi anak yang harus berjuang seperti itu. Saya berharap ayah Saidil segera pulih, dan keluarganya mendapatkan perhatian yang layak agar kejadian serupa tidak terulang.

Penulis bernama Aishara, Mahasiswi Program Studi Informatika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Zalifa Naiwa Belleil