
Siaran Pers | DETaK
Darussalam—Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi Calon Guru Universitas Syiah Kuala (USK) bersama SD Negeri 67 Percontohan Banda Aceh berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banda Aceh dalam kegiatan Sosialisasi Mitigasi Bencana, Simulasi Evakuasi, dan Pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Senin (5/10/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan proyek kepemimpinan mahasiswa PPG berbasis pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan warga sekolah dalam menghadapi bencana, khususnya gempa bumi dan tsunami, sekaligus memperkenalkan pentingnya persiapan tas siaga bencana.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan upacara bendera pada Senin pagi. Setelah upacara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi atau drill evakuasi bencana. Pada pukul 08.40 WIB, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) membunyikan sirene pertama sebagai tanda terjadinya gempa bumi. Mendengar sirene tersebut, wali kelas mengarahkan murid untuk berlindung di bawah meja dengan melindungi kepala menggunakan ransel masing-masing.
Setelah sirene kedua berbunyi, murid diarahkan keluar dari ruang kelas melalui jalur evakuasi menuju titik kumpul di lapangan sekolah. Selanjutnya, pada pukul 09.10 WIB, murid bersama guru dan pendamping bergerak menuju Stadion Harapan Bangsa sebagai titik evakuasi. Proses evakuasi turut didampingi oleh BPBD Kota Banda Aceh, Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh, Polsek Banda Raya, mahasiswa PPG Calon Guru Universitas Syiah Kuala, serta guru SDN 67 Percontohan Banda Aceh. Rombongan tiba di Stadion Harapan Bangsa sekitar pukul 09.30 WIB.
Setibanya di lokasi, BPBD memberikan sosialisasi mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan bencana serta tas siaga bencana kepada murid dan guru. Sosialisasi ini memberikan pemahaman mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Banda Aceh, Cut Ahmad Putra, menekankan bahwa pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bukanlah akhir dari upaya membangun kesiapsiagaan bencana di sekolah.
“Pembentukan SPAB ini baru langkah awal. Semoga kita bisa melaksanakan hak dan kewajiban dalam MoU ini, dan semoga SPAB dapat terbentuk di sekolah-sekolah lainnya,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa edukasi kebencanaan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, kegiatan simulasi yang dilaksanakan hari ini tidak boleh berhenti setelah SPAB terbentuk. Pengetahuan dan kesiapsiagaan terhadap bencana perlu terus dibangun secara rutin agar menjadi bagian dari budaya warga sekolah.
Selain itu, Cut Ahmad Putra mendorong agar edukasi kebencanaan juga dapat disampaikan kepada orang tua melalui berbagai pertemuan sekolah. Pihak BPBD Kota Banda Aceh, siap mendukung sekolah dalam memberikan materi dan edukasi kebencanaan kepada siswa sekaligus masyarakat. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh murid diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga sehingga dampak edukasi menjadi lebih luas.
Sekitar pukul 11.00 WIB, murid diarahkan kembali ke sekolah menggunakan kendaraan yang telah disiapkan oleh BPBD. Setelah seluruh rombongan tiba di sekolah, pukul 11.30 WIB dilaksanakan penandatanganan dan penyerahan MoU pembentukan SPAB antara SDN 67 Percontohan Banda Aceh dan BPBD Kota Banda Aceh.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Sulaiman Bakri, beserta Sekretaris Dinas, Camat Kecamatan Banda Raya yang didampingi Bunda PAUD Kecamatan Banda Raya, Dosen Pengampu Mata Kuliah Projek Kepemimpinan, serta sejumlah pihak terkait. Pengamanan dan pengaturan lalu lintas selama kegiatan juga didukung oleh Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh dan Polsek Banda Raya.
Penandatanganan MoU tersebut menjadi langkah awal bagi SDN 67 Percontohan Banda Aceh dalam memperkuat sistem kesiapsiagaan dan budaya aman bencana di lingkungan sekolah.
Pada pukul 14.30 WIB, mahasiswa PPL PPG USK kemudian melakukan wawancara dengan Kepala SDN 67 Percontohan Banda Aceh, Erna Wirda, mengenai pelaksanaan sosialisasi mitigasi bencana serta inisiatif mahasiswa dalam membangun kolaborasi antara sekolah dan BPBD.
Kepala sekolah mengapresiasi inisiatif tersebut dan menilai kegiatan ini memberikan pengalaman penting bagi mahasiswa PPG dalam membangun kolaborasi lintas sektor.
“Ibu rasa ini inisiatif yang bagus dari kelompok PPL. Mahasiswa bisa berkoordinasi lintas instansi, dari pihak BPBD, SDN 67 Percontohan Banda Aceh, dan beberapa instansi lainnya. Hal ini merupakan salah satu modal menjadi guru profesional. Menjadi guru tidak hanya mengajar, tetapi juga banyak hal yang mendukung proses itu, termasuk bekerja sama dengan berbagai pihak. Semoga mahasiswa PPL di SDN 67 Percontohan Banda Aceh akan menjadi guru-guru hebat ke depannya,” ungkapnya.
Sementara itu, Drs. Rusman, selaku dosen mata kuliah Proyek Kepemimpinan, turut memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa PPG. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi yang saling berkaitan antara mahasiswa, sekolah, dan BPBD.
“Ini sebuah acara yang bagus yang diinisiasi oleh mahasiswa. Ini adalah sebuah kerja sama kolaborasi yang saling bersangkutan antara mahasiswa, sekolah, dan BPBD. Ibarat kata, kalau BPBD tidak ada, bagaimana acara ini mau berjalan? Kalau tidak ada sekolah, di mana kegiatan ini mau dilaksanakan,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya program mahasiswa PPG tersebut.
Kegiatan sosialisasi mitigasi bencana, simulasi evakuasi, dan pembentukan SPAB di SDN 67 Percontohan Banda Aceh menjadi salah satu langkah nyata dalam membangun budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan. Kolaborasi antara mahasiswa PPG USK, SDN 67 Percontohan Banda Aceh, BPBD Kota Banda Aceh, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, serta berbagai pihak terkait diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut melalui edukasi dan latihan kebencanaan secara berkala.
Melalui kegiatan ini, murid tidak hanya memperoleh pengalaman melakukan evakuasi secara langsung, tetapi juga diharapkan mampu membawa pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana ke lingkungan keluarga. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi salah satu titik awal penyebaran pengetahuan kebencanaan kepada masyarakat yang lebih luas.[]
Editor: Zalifa Naiwa Belleil









