Beranda Terkini BEM USK Gelar RESHA 2026, Bahas Kesehatan Reproduksi dan Kekerasan Seksual di...

BEM USK Gelar RESHA 2026, Bahas Kesehatan Reproduksi dan Kekerasan Seksual di Kampus

BERBAGI
Peserta berfoto bersama usai mengikuti kegiatan Reproductive and Sexual Health Awareness (RESHA) 2026 di Gedung Kaca USK, Banda Aceh, 20/09/2026. (Durratur Rif’ati [AM]/DETaK)

Durratur Rif’ati [AM] & Sahra Purnama [AM] | DETaK

Darussalam-Departemen Kesehatan Lingkungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Seminar RESHA (Reproductive and Sexual Health Awareness) 2026 yang membahas kesehatan reproduksi dan kekerasan seksual di kampus, sebagai upaya meningkatkan kesadaran mahasiswa. Kegiatan berlangsung di Ruang Kaca USK pada Minggu, 20 September 2026.

Seminar tersebut mengusung tema “TABU: Meruntuhkan Stigma Kesehatan Reproduksi dan Menolak Kekerasan Seksual di Kampus”. Pemateri yang dihadirkan adalah Elka Halifah, pengajar di Departemen Keperawatan Maternal, Fakultas Keperawatan (FKEP) USK.

Iklan Souvenir DETaK

Ketua Panitia RESHA 2026, Suci Ramadhani, mengatakan seminar ini digelar karena kesadaran dan pengetahuan mahasiswa tentang kesehatan reproduksi serta kekerasan seksual masih kurang.

“Kegiatan ini diselenggarakan karena kesehatan reproduksi dan isu kekerasan seksual masih tabu di kalangan mahasiswa. Literasi mengenai hal ini dapat menjadi benteng pencegahan terhadap misinformasi tentang kejadian yang merugikan kita sendiri,” ungkapnya.

Ia berharap peserta dapat memahami materi dan memanfaatkannya langsung di lingkungan sekitar.

“Kami berharap seminar ini dapat memberikan informasi kepada para peserta, ada harapan rasa tabu itu dapat tercerahkan terhadap isu kesehatan reproduksi dan kekerasan seksual,” tambahnya.

Selain penyampaian materi, peserta mengerjakan post-test untuk mengevaluasi seberapa jauh materi terserap. Peserta kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk membedah dan menganalisis satu kasus terkait kesehatan reproduksi dan kekerasan seksual. Hasil analisis kemudian dipresentasikan dan ditanggapi oleh kelompok lain.

Salah satu peserta, Naura, menilai pemahaman tentang isu ini penting agar hal-hal yang dianggap sepele tidak dinormalisasi.

“Penting banget, terutama untuk diri sendiri, agar tau gimana kesehatan reproduksi, bagaimana cara mengantisipasi kekerasan seksual, dan pelecehan sehingga kita tidak menormalisasikan hal-hal kecil, seperti catcalling dan menstruasi yang dianggap memalukan,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Elka Halifah mengingatkan agar segera melapor ke Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) USK apabila terjadi kekerasan seksual. Ia juga menegaskan bahwa kesehatan reproduksi bukan hal yang tabu untuk dibahas, karena mencegah kekerasan dan perilaku seksual berisiko di lingkungan kampus merupakan tanggung jawab bersama.[]

Editor: Naisya Alina